Bayangin, suatu hari nanti, kamu tinggal di kota yang nggak cuma terapung di atas air, tapi juga bisa pindah-pindah. Bukan kayak kapal pesiar, tapi beneran kota lengkap dengan sekolah, rumah sakit, dan taman. Kedengeran kayak fiksi ilmiah? Tapi ini udah mulai jadi kenyataan.
Gue baru-baru ini baca berita tentang mahasiswa Itera yang juara internasional di Jepang berkat konsep kota terapung. Namanya “Anti Deco: A City That Exists in Time, Not in Space.” Mereka bayangin kondisi ketika kota nggak bisa lagi bergantung pada daratan yang stabil, dan dari situ lahir gagasan kota terapung yang adaptif . Keren kan? Bukan cuma konsep abstrak, tapi beneran dipikirin serius sama anak bangsa.
Nah, di sisi lain, ada proyek nyata yang udah mulai jalan. Maladewa, negara kepulauan yang hampir 80% daratannya kurang dari satu meter di atas permukaan laut, akhirnya resmi meresmikan proyek kota terapung. Bukan cuma wacana, tapi solusi darurat buat mereka yang terancam tenggelam akibat krisis iklim.
Dari ‘Korban’ Jadi ‘Inovator’ Iklim
Ini pergeseran paradigma yang gue angkat dari awal. Selama ini, kita terbiasa dengan narasi “bertahan dari bencana”—bikin tanggul, pindah ke tempat lebih tinggi, atau pasrah. Tapi Maladewa memilih jalan lain: beradaptasi secara radikal dengan habitat baru.
Proyek Maladewa Floating City (MFC) ini dibangun di atas laguna seluas 200 hektar, dengan ribuan unit rumah yang mengapung di atas grid modular . Jaraknya cuma 10 menit naik perahu dari ibu kota, Male. Desainnya bahkan meniru struktur otak karang—bukan cuma estetika, tapi juga buat jadi rumah bagi terumbu karang di bawahnya .
“Kami mendorong masyarakat Maladewa untuk bertransformasi dari ‘pengungsi iklim’ menjadi ‘inovator iklim’,” kata arsitek dari Waterstudio.NL, perusahaan di balik proyek ini .
Ini bukan mainan orang kaya. Proyek ini dikembangkan melalui kemitraan publik-swasta antara pemerintah Maladewa, Dutch Docklands, dan Waterstudio. Tujuannya jelas: menciptakan perumahan tahan iklim yang terjangkau, bukan eksklusif. Dengan sistem energi terbarukan dan desain yang bisa naik-turun mengikuti permukaan air, kota ini dirancang buat bertahan dari badai dan kenaikan muka laut .
3 Studi Kasus: Dari Konsep ke Kenyataan
1. Maladewa Floating City: Yang Paling Nyata
Ini yang paling advanced. Proyek ini udah direncanakan lebih dari 10 tahun dan sekarang mulai konstruksi. Unit rumah dibangun di galangan kapal lokal, lalu dipasang di atas lambung beton bawah air yang ditambatkan ke dasar laut dengan tiang baja yang bisa naik-turun .
Yang bikin keren: di bawah permukaan, mereka pasang terumbu karang buatan yang berfungsi sebagai pemecah gelombang alami. Jadi, sambil menyediakan hunian, mereka juga memulihkan ekosistem laut . Ini bukan cuma solusi hidup, tapi solusi hidup bersama alam.
2. Konsep Mahasiswa Itera: Modular dan Dinamis
Nah, ini contoh kebanggaan kita. Wahyu Sony Ardiyansah dan Muhammad Choir dari Itera bikin konsep yang nggak cuma “terapung”, tapi juga bergerak. Sistem urban modular yang mereka tawarkan bisa naik ke permukaan saat situasi stabil, dan turun ke lapisan laut yang lebih aman ketika terjadi gangguan .
“Arsitektur bukan lagi sesuatu yang statis, melainkan sistem yang hidup dan bergerak dalam waktu,” kata Choir . Ini relevan banget buat Indonesia sebagai negara kepulauan yang menghadapi ancaman kenaikan air laut dan penurunan tanah di kawasan pesisir .
3. Oceanix Busan: Prototipe Kota Terapung PBB
Di Korea Selatan, proyek Oceanix Busan juga mulai groundbreaking pada 2023. Dirancang buat menampung 12.000 orang, dengan kapasitas akhir sampai 100.000 jiwa. Ini proyek yang didukung UN-Habitat dan dirancang untuk menghasilkan 100% energi operasionalnya di lokasi . Sayangnya, meskipun solusi teknikalnya maju, biaya tinggi dan kerangka regulasi masih jadi hambatan .
Data & Fakta: Emang Dibutuhkan?
Data dari Chatham House bilang: di Maladewa, proyeksi kenaikan permukaan laut mencapai 0,7 meter pada akhir abad ini. Banjir kronis, erosi pantai yang meluas, dan kelangkaan lahan ekstrem bikin kota terapung bukan eksperimen futuristik, tapi kebutuhan strategis .
Di Bangladesh, banjir musiman udah menggenangi 20–25% wilayah setiap tahun. Kenaikan 50 cm bisa merendam 11% daratan dan mengungsi hingga 18 juta orang pada pertengahan abad . Sementara di Asia, konsep kota terapung yang modular dan adaptif mulai dilihat sebagai alternatif kredibel, bukan lagi utopia .
Common Mistakes: Hal yang Sering Salah Dipahami
- Mengira kota terapung = kapal pesiar raksasa
Beda! Proyek kayak Freedom Ship yang panjangnya 1,6 km dan bisa muat 80.000 orang itu lebih mirip kapal pesiar raksasa yang terus bergerak . Tapi proyek kayak Maladewa atau Oceanix itu tetap di satu tempat, terapung di atas laguna atau laut, dan terhubung ke daratan. Nggak berlayar keliling dunia. - Anggap ini solusi untuk semua orang
Nggak semua kota pesisir butuh kota terapung. Biaya dan materialnya gede banget. Kansai International Airport di Jepang yang dibangun di pulau buatan, misalnya, malah terus ambles dan butuh perawatan mahal . Jadi, ini bukan solusi instan. - Lupa aspek sosial dan ekonomi
Tanpa kerangka kebijakan yang inklusif, kota terapung bisa jadi “enklave orang kaya” yang ninggalin masyarakat pesisir semakin rentan . Ini risiko yang harus diantisipasi. - Menganggap teknologi ini sudah sempurna
Masih banyak PR: korosi, biofouling (tumbuhan laut yang nempel), kelelahan struktur, dan kemampuan bertahan dari tsunami. Semua ini masih diuji .
Practical Tips: Gimana Kita Bisa Terlibat?
- Mulai dari skala kecil
Nggak harus langsung kota besar. Konsep mahasiswa Itera bisa dimulai dari infrastruktur pesisir yang fleksibel, hunian terapung di wilayah rawan banjir, atau pemanfaatan energi laut . Ini lebih realistis dan bisa jadi pilot project. - Dorong kebijakan yang inklusif
Kota terapung harus diintegrasikan ke dalam kebijakan perumahan, ketenagakerjaan, dan lingkungan. Jangan sampai jadi proyek eksklusif. - Pelajari dari kegagalan
Proyek Freedom Ship udah muncul sejak 1990-an tapi nggak pernah jadi kenyataan karena biaya yang terus membengkak dan kesulitan pendanaan . Belajar dari situ, kita harus realistis soal anggaran dan timeline. - Dukung penelitian lokal
Prestasi mahasiswa Itera menunjukkan kita punya kapasitas. Dukung riset dan pengembangan konsep kota terapun yang sesuai dengan kondisi Indonesia.
Jadi, Kota Terapung Itu Solusi?
Data dan kenyataan di lapangan bilang: ini salah satu solusi penting, tapi bukan satu-satunya.
Yang menarik dari pergeseran paradigma ini adalah, kita nggak lagi cuma mikir “gimana selamat dari bencana”, tapi “gimana hidup berdampingan dengan air”. Kayak kata Wahyu dari Itera: “kota masa depan tidak lagi dirancang untuk melawan perubahan, melainkan hidup berdampingan dengan ketidakpastian” .
Proyek Maladewa dan Oceanix Busan adalah bukti bahwa kota terapung bukan lagi fiksi ilmiah. Tapi perjalanan masih panjang. Masih ada PR soal biaya, regulasi, dan dampak sosial. Tapi satu hal yang pasti: kita nggak bisa lagi mengabaikan fakta bahwa air laut naik, dan kita harus beradaptasi. Entah dengan kota terapung, atau dengan cara lain yang sama radikalnya.
Gimana menurut kamu? Siap tinggal di kota terapung? Atau masih lebih percaya sama daratan? Share pendapatmu di kolom komentar, yuk!