Kemarin malem, gue scroll Twitter sebelum tidur. Biasanya cuma lihat meme atau debat bola. Tapi tiba-tiba, gue nemu thread yang bikin gue nggak bisa tidur sampai jam 2 pagi.
Seorang remaja perempuan, umurnya baru 17 tahun, cerita panjang lebar tentang pengalamannya. Dia ikut casting film. Datang dengan mimpi. Pulang dengan luka. Bukan luka fisik aja, tapi luka batin yang dalam banget.
Namanya Adine. Atau panggilan A. Dia buka suara lewat akun X @adnazraa. Dan tau nggak? Dalam hitungan jam, thread-nya dilihat lebih dari 1,5 juta orang . Itu artinya, setengah juta lebih mata membaca kisahnya. Dan ribuan di antaranya, ikut nangis.
Gue bukan tipe orang yang gampang baper. Tapi pas baca satu bagian, gue berhenti. Di situ Adine nulis: “Dia menghargai badanku dengan uang. Cium ketiak Rp500 ribu. Cium pipi Rp250 ribu. Cium leher Rp250 ribu. Pegang paha…”
Bayangin. Tubuh manusia, tubuh anak orang, dihargai dengan daftar harga kayak menu di restoran cepat saji.
Ini bukan sekadar berita viral yang bakal lupa dalam seminggu. Ini alarm buat kita semua. Buat lo yang punya adik, punya ponakan, punya anak, atau bahkan lo yang masih muda dan bercita-cita masuk industri kreatif.
Gue udah baca semua sumber, ngumpulin fakta, dan nulis ini bukan cuma buat kasih kronologi. Tapi buat jadi peta jalan. Biar talenta muda kita nggak jatuh ke lubang yang sama.
Kronologi Lengkap: Dari Mimpi Jadi Trauma
Gue coba susun kronologinya berdasarkan kesaksian korban. Biar lo bisa lihat polanya. Karena predator itu selalu punya pola.
1. Awal Mula: Lowongan Casting yang Menggiurkan
Adine, remaja 17 tahun, lihat open casting untuk film thriller psikologis. Dia tertarik. Masa iya, film thriller biasanya keren. Dia hubungi nomor yang tertera .
Kejanggalan pertama: Yang angkat telepon bukan tim casting. Bukan asisten. Langsung sutradaranya.
Dalam industri profesional, ini udah red flag nomor satu. Sutradara punya kerjaan lain. Mereka nggak punya waktu buat nerima telepon satu-satu dari setiap talent yang daftar. Tapi Adine waktu itu nggak curiga. Mungkin sutradaranya emang tipe yang terbuka, pikirnya.
2. Interaksi Awal yang “Meyakinkan”
Sebelum casting offline, si sutradara ngirim foto Adine yang lagi pakai tankini di pantai. Dikirimnya pake fitur view once—sekali lihat, langsung ilang .
Ini penting dicatat. Fitur view once itu favoritnya para predator. Karena nggak ada jejak.
Adine mulai agak risih. Tapi dipikirin lagi, mungkin ini bagian dari tes? Mungkin mereka mau lihat respon gue?
Dia abaikan.
3. Casting Offline: Fasilitas Mewah, Aturan Aneh
Adine diundang casting offline. Dan di sini, si sutradara mainin psikologinya dengan cantik.
Dia dikasih fasilitas VIP. Makan enak. Minum gratis. Ruangan nyaman. Pokoknya diperlakukan kayu bintang . Ini bikin Adine merasa: “Oh berarti ini PH besar, profesional banget.”
Tapi di balik itu, ada aturan-aturan yang… aneh.
- Mereka nggak boleh pulang sebelum waktu yang ditentukan
- Dilarang ngobrol sama sesama talent
- Dilarang berkenalan dengan lawan jenis
Lo bisa bayangin? Satu ruangan penuh orang, tapi dilarang ngobrol. Suasananya pasti tegang. Dan yang paling aneh: mereka diwajibkan bikin video testimoni. Isinya memuji PH dan memuji sang sutradara .
Nah, ini tuh pola klasik grooming. Korban dibuat merasa terkesan, diisolasi dari yang lain, lalu dipaksa ngasih testimoni positif. Testimoni itu nanti bakal dipake buat ngejebak korban berikutnya. Atau buat senjata kalau korban berani bersuara: “Lho, kamu dulu kan bilang semuanya baik-baik aja.”
4. Pengumuman Lolos dan Pergeseran Nada
Empat hari setelah casting, kabar datang. Adine lolos.
Tapi ada tapi. Perannya ternyata… mengandung unsur sensual .
Ini pintu masuknya.
Si sutradara mulai ngirim video dewasa. Katanya, buat referensi. Biar Adine bisa belajar. Bisa berimajinasi .
Dari situ, permintaan makin aneh. Adine diminta foto dengan pose tertentu. Pose seolah-olah lagi ketakutan. Pose seolah-olah mau diperkosa. Diminta pakai dress putih. Ditanya ukuran bra .
Adine cerita, di titik ini dia mulai merasa kayak dihipnotis. Tapi untungnya, dia masih sadar. Dia nggak pernah ngirim foto yang terlalu vulgar. Nggak pernah ngirim foto yang perlihatin wajah. Itu mungkin yang nyelametin dia.
5. Penawaran yang Menjijikkan
Ketika Adine mulai agak tegas, si sutradara ganti strategi. Dia nawarin kontrak dengan nilai di atas rate card (standar industri). Nilainya gede. Menggiurkan.
Tapi ada tambahannya: tarifnya bakal naik kalau Adine mau disentuh di bagian-bagian tertentu.
Dan kemudian munculah daftar harga itu:
Adine bilang, dia merasa muak. Najis. Tubuhnya dihargai kayak barang dagangan. Dia memutuskan mundur.
Tapi cerita nggak berhenti di situ.
6. Ternyata Bukan Cuma Adine
Setelah Adine buka suara, korban lain mulai muncul. Dan cerita mereka… lebih parah.
Ada teman Adine yang diminta melakukan masturbasi di depan kamera. Ada yang diajak “latihan” di apartemen pribadi si sutradara. Bahkan, si sutradara bilang ke temen Adine kalo dia mau masturbasi juga .
Gue baca bagian ini, gue nahan napas. Ini bukan grooming lagi. Ini udah masuk ranah kriminal berat.
Publik mulai mencari-cari, siapa pelakunya. Akun X @HabisNontonFilm dan netizen lain mulai menunjuk: sosok berinisial E alias Erzatrainer. Disebut-sebut sebagai penulis skenario, sutradara, sekaligus pemeran utama film berjudul “TIRAI JAGAL” .
Setelah namanya ramai, akun Instagram @Erzatrainer langsung dikunci. Private.
Klarifikasi: “Itu Udah Kami Sounding dari Awal”
Lo pasti ngebayangin, setelah viral gini, pelaku pasti diem aja, kan? Atau minta maaf?
Enggak.
Ezra—sutradara yang dituduh—buka suara lewat Instagram @officialezraa. Dan ini pernyataannya:
“Buat teman-teman semua, saya selaku penulis serta sutradara di film ini, menjelaskan bahwa film kami ini adalah film gore, action, thriller, pembunuhan, psikopat, penculikan, penyekapan, penyiksaan, adegan sensual.”
“(Soal casting) Sudah kami sounding dari awal, sebelum mereka datang casting secara offline kami fasilitasi tempatnya, kami sewa ballroom, kami kasih makan, kasih minum. Orang tua mau datang, mau nganterin, silahkan.”
Dia juga ngegas kalau semua sudah minta izin. Bahkan, katanya, talent boleh bawa keluarga ke lokasi.
Nah, di sini kita lihat pola yang sama lagi. Pelaku selalu punya pembelaan yang kedengerannya masuk akal. “Ini film sensual, udah kami kasih tahu dari awal.” “Kami fasilitasi mewah, kok.” “Orang tua boleh datang.”
Tapi pertanyaan besarnya: Apakabar dengan percakapan setelah casting? Apakah orang tua juga boleh datang pas sutradara ngirim video dewasa ke anak mereka? Apakah orang tua juga boleh nimbrung pas anaknya ditanya ukuran bra? Apakah fasilitas ballroom itu ngebenerin permintaan foto “pose mau diperkosa”?
Klarifikasi ini penting dicatat. Tapi jangan ditelan mentah-mentah.
5 Fakta Baru yang Terungkap
Dari semua yang udah gue baca dan rangkum, ada beberapa fakta yang mungkin lo lewatkan.
Fakta #1: Ada Lebih dari Satu Korban, dengan Pola Sama
Ini penting banget. Kasus ini bukan “satu orang komplain”. Setelah Adine speak up, beberapa talent lain mulai buka suara. Dan polanya konsisten .
- Semua dihubungi langsung sutradara
- Semua dikasih fasilitas mewah di awal
- Semua dilarang interaksi sama talent lain
- Semua diminta testimoni positif
- Semua pada akhirnya diarahkan ke konten sensual hingga eksplisit
Dalam kriminologi, ini tanda klasik dari predator berantai. Mereka punya modus operandi yang terstruktur.
Fakta #2: Metode “View Once” Digunakan untuk Menghilangkan Jejak
Pengiriman foto Adine pake tankini dikirim via fitur sekali lihat . Ini bukan kebetulan.
Fitur ini jadi favorit pelaku kejahatan seksual karena nggak ninggalin bukti. Screenshot biasanya dinonaktifkan atau terdeteksi. Jadi korban susah banget buat ngumpulin barang bukti.
Ini yang bikin kasus kayak gini susah diusut secara hukum.
Fakta #3: Ada “Rate Card” Ilegal untuk Pelecehan
Ini yang paling bikin publik syok. Adine menyebut dengan jelas: ada daftar harga untuk sentuhan fisik .
- Cium ketiak: Rp500 ribu
- Cium pipi: Rp250 ribu
- Cium leher: Rp250 ribu
Ini membuktikan bahwa apa yang terjadi bukan sekadar “salah paham” atau “proses casting yang kurang jelas”. Ini sudah terstruktur sebagai transaksi eksploitasi seksual.
Fakta #4: Video Dewasa Dikirim sebagai “Referensi Peran”
Pelaku mengirimkan video porno ke Adine dengan dalih “referensi” dan “biar bisa berimajinasi” . Dalam industri film profesional, ada batasan tegas antara “referensi” dan “konten eksplisit”. Sutradara profesional bisa jelasin adegan tanpa harus menunjukkan video porno ke anak di bawah umur.
Ini celah yang sering dipakai: membungkus pelecehan dengan istilah artistik.
Fakta #5: Korban Diminta Testimoni Sebagai “Tameng”
Ini taktik yang cerdik sekaligus kejam. Setelah casting, semua talent diwajibkan buat video testimoni, memuji PH dan sutradara .
Testimoni ini punya dua fungsi:
- Jebakan buat korban: Kalau suatu saat korban speak up, pelaku bisa bilang, “Lho, dulu kamu baik-baik aja, bahkan memuji kami.”
- Umpan buat korban baru: Testimoni positif dipakai buat meyakinkan talent berikutnya bahwa ini tempat aman dan profesional.
Kenapa Industri Kreatif Jadi Ladang Empuk?
Gue sempet mikir, kenapa sih industri film, musik, hiburan, sering banget jadi tempat suburnya predator kayak gini?
Jawabannya kompleks. Tapi dari riset dan ngobrol sama beberapa temen yang kerja di industri, gue rangkum beberapa poin.
1. Ada Ketimpangan Kuasa yang Ekstrem
Sutradara, produser, casting director, mereka punya kuasa buat nentuin masa depan seseorang. Sementara talent muda, apalagi yang baru mau masuk, posisinya lemah banget.
Mereka takut. Kalau nolak, takut nggak dikasih peran. Takut dikasih label “susah diajak kerja sama”. Takut dicoret dari industri.
Predator tahu ini. Mereka exploitasi ketakutan itu.
2. Industri Kreatif Kurang Standarisasi Prosedur
Di perusahaan kantoran pada umumnya, ada HRD. Ada aturan main. Ada kode etik.
Di industri kreatif? Banyak yang masih jalan “as based on trust” atau “koneksi”. Casting lewat temen. Proses nggak jelas. Batasan profesional-sosial sering kabur.
Ini celah yang dimanfaatin.
3. Mimpi dan Ambisi Dimanfaatkan
Anak muda datang dengan mimpi. Ingin terkenal. Ingin jadi bintang. Predator tahu ini. Mereka tawarkan jalan pintas. “Lo mau peran ini? Ada syaratnya.” Atau sebaliknya, mereka bikin korban merasa “terpilih”, “spesial”, makannya dihubungi langsung sutradara.
Ini teknik grooming klasik.
Data yang Bikin Kita Merenung
Gue coba tarik data lebih luas. Biar kita nggak lihat kasus ini sebagai kasus isolasi, tapi sebagai bagian dari masalah yang lebih besar.
Badan Perfilman Indonesia pernah mencatat bahwa industri film nasional tumbuh signifikan pasca pandemi. Tahun 2024, perputaran ekonomi sektor ini mencapai Rp 3,2 triliun, dengan kenaikan hingga 15% per tahun . Tapi ironisnya, pertumbuhan ini nggak merata. Banyak PH kecil susah akses layar bioskop karena dikuasai 2-3 PH besar .
Artinya apa? Persaingan ketat. Anak muda makin susah tembus industri yang sehat. Makin gampang tergiur tawaran dari “orang dalam” yang janjiin jalan pintas.
Di sisi lain, data dari Kementerian Ekonomi Kreatif menunjukkan bahwa 40% anak muda Indonesia sekarang bermimpi kerja di industri kreatif . Itu jutaan orang. Dan dari jutaan itu, berapa banyak yang paham modus-modus pelecehan berkedok casting?
Kita lagi darurat literasi keamanan industri.
Panduan Praktis: Melindungi Talenta Muda dari Jerat Predator
Nah, ini bagian yang paling penting. Karena gue nggak mau artikel ini cuma jadi hiburan moral. Gue mau lo bisa bawa sesuatu yang actionable.
Entah buat diri lo sendiri, buat adik lo, buat keponakan, atau buat siswa-siswi lo.
1. Kenali Red Flag dari Awal
Ajarkan ini ke semua talent muda yang lo kenal:
- Kalau dihubungi langsung sutradara/produser tanpa melalui tim casting resmi = RED FLAG
- Kalau diminta komunikasi via DM/pesan pribadi, bukan via email resmi PH = RED FLAG
- Kalau ada permintaan kirim foto/video pribadi sebelum casting = RED FLAG
- Kalau ada aturan aneh kayak dilarang ngobrol sama talent lain = RED FLAG
- Kalau ada kewajiban bikin testimoni positif = RED FLAG BESAR
Red flag ini harus diajarkan. Jangan sampai anak muda baru tahu setelah kejadian.
2. Terapkan Sistem “Buddy Casting”
Ini gue pelajari dari temen yang kerja di industri kreatif di luar negeri. Di sana, banyak casting yang mewajibkan talent datang tidak sendirian. Boleh bawa teman, pacar, atau keluarga.
Di Indonesia, sebagian casting mungkin masih “privacy” karena alasan artistik. Tapi untuk casting awal, apalagi yang melibatkan adegan intim, talent berhak minta ditemani.
Kalau PH-nya nggak ngizinin? Tanya kenapa. Kalau jawabannya nggak meyakinkan? Mending mundur.
3. Screen Recording dan Bukti Digital
Kasus Adine jadi pelajaran penting. Pelaku pakai fitur view once buat kirim foto tanpa jejak .
Solusinya? Ada dua:
- Screen recording dari perangkat lain. Lo bisa minta temen lo record layar HP lo pakai HP lain.
- Jangan pernah percaya fitur “tak berjejak”. Anggap aja setiap percakapan bisa dipakai buat jebakan.
Tapi yang paling penting: jangan pernah mengirim foto/video yang lo sendiri nggak nyaman lihat di berita besok. Aturan ini simpel tapi menyelamatkan.
4. Kenali Teknik Grooming
Grooming itu proses, bukan kejadian tiba-tiba. Biasanya lewat beberapa tahap:
- Targeting: Memilih korban (biasanya yang muda, polos, ambisius)
- Gaining trust: Bikin korban percaya (dengan fasilitas mewah, perhatian berlebih)
- Filling a need: Memenuhi kebutuhan korban (pujian, perhatian, janji karier)
- Isolation: Memisahkan dari orang lain (dilarang ngobrol sama talent lain)
- Sexualization: Mulai masukin konten seksual (referensi, foto, video)
- Maintaining control: Begitu korban terlanjur terlibat, pelaku pegang kendali
Kalau lo atau kenalan lo ngalamin pola ini, segera mundur. Nggak ada peran segede apapun yang sebanding dengan kesehatan mental lo.
5. Speak Up dan Cari Support System
Adine berani speak up. Itu luar biasa. Tapi nggak semua orang punya privilege yang sama.
Kalau lo atau temen lo jadi korban:
- Simpan bukti sebanyak mungkin (screenshot, rekaman, percakapan)
- Cerita ke orang dewasa yang dipercaya (orangtua, guru, kakak)
- Cari dukungan psikologis kalau diperlukan
- Lapor ke pihak berwajib kalau udah siap
Jangan merasa sendiri. Kasus Adine membuktikan, setelah satu orang speak up, yang lain ikut muncul. Kita lebih kuat bareng-bareng.
Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan
Dari ngobrol sama beberapa temen dan baca ribuan komentar di X, gue lihat ada beberapa kesalahan yang sering diulang.
Kesalahan #1: Ngeremehin Red Flag Awal
“Ah, mungkin emang caranya aja yang agak aneh.”
“Ah, mungkin ini proses casting biasa.”
Percaya intuisi. Kalau ada yang aneh dari awal, hampir pasti bakal makin aneh ke depannya. Jangan nunggu sampai kejebak.
Kesalahan #2: Terjebak Fasilitas Mewah
Ini klasik. Dikasih makan enak, ruangan VIP, transportasi dijamin, langsung luluh. Padahal, fasilitas itu bisa jadi umpan. Industri profesional memang ngasih fasilitas, tapi nggak pake aturan aneh kayak “dilarang ngobrol” atau “wajib testimoni”.
Fasilitas bukan alasan buat ngalahin akal sehat.
Kesalahan #3: Merasa “Terpilih” Itu Spesial
“Wah, gue dihubungi langsung sutradara, berarti gue spesial!”
Ini yang dieksploitasi pelaku. Mereka bikin korban merasa terpilih, merasa berbeda dari yang lain. Padahal, di mata predator, korban itu komoditas. Bukan orang spesial.
Kesalahan #4: Diam Karena Malu atau Takut
“Siapa yang bakal percaya?”
“Gue yang salah kali ya, nggak nolak dari awal.”
Rasa malu dan takut ini yang bikin predator bebas berkeliaran. Mereka hitung itu. Mereka tahu korban bakal diem. Jangan kasih mereka kemenangan itu.
Bukan Sekadar Berita Viral
Gue nulis ini panjang lebar karena gue percaya satu hal: berita viral itu cuma bertahan seminggu, tapi trauma korban bisa bertahan seumur hidup.
Kita sebagai masyarakat, sebagai orangtua, sebagai kakak, sebagai teman, punya tanggung jawab buat nggak cuma jadi penonton. Bukan cuma like dan retweet, lalu minggu depan lupa.
Kasus Adine ini harus jadi momentum.
Momentum buat industri kreatif benahin diri. Buat ada standar casting yang jelas. Buat ada sanksi tegas buat predator. Buat ada perlindungan buat talent muda.
Momentum buat kita semua belajar. Biar kalau ada adik atau ponakan yang bilang, “Kak, gue mau ikut casting film,” kita nggak cuma bilang “Wah keren!”, tapi juga nanya, “Siapa PH-nya? Siapa sutradaranya? Prosedurnya gimana? Boleh ditemenin?”
Karena pada akhirnya, perlindungan terbaik buat talenta muda bukan cuma dari aturan atau polisi. Tapi dari kesadaran kolektif kita. Dari keberanian kita buat ngomong, “Ini nggak bener.”
Adine udah berani buka suara. Sekarang giliran kita yang denger.
Gue tahu ini bacaan berat. Tapi kalau lo baca sampai sini, artinya lo peduli. Dan kepedulian lo itu penting. Kalau lo punya pengalaman, atau kenal seseorang yang ngalamin hal serupa, lo nggak sendiri. Bisa cerita ke orang terdekat, atau cari bantuan profesional. Dan kalau mau diskusi lebih lanjut, kolom komentar terbuka. Siapa tahu dari diskusi ini, lahir ide-ide baru buat bikin industri kreatif kita lebih aman.