Redaksi Besar Itu Sekarang Punya Daftar Hitam untuk Sumber Berita AI. Nama Siapa Saja?
Gue dulu kerja di meja redaksi. Daftar sumber yang bisa dikutip itu saklek. Harus punya track record, kontak yang bisa dihubungi, dan paling nggak, kantor fisik yang jelas. Sekarang? Ada “kantor” baru yang bikin pusing: newsroom digital yang 100% dijalankan AI, tanpa satu pun manusia yang mau bertanggung jawab.
Jadi awal tahun ini, gue dengar rapat internal di salah satu media nasional. Mereka lagi bahas satu situs berita yang rajin kirim press release otomatis. Isinya padat, datanya kayak valid, judulnya clickable banget. Tapi pas dikroscek, narasumbernya fiktif, datanya diambil dari riset lama yang udah expired, dan nggak ada satu pun kontak manusia di sana. Akhirnya, redaksi memutuskan: de-platforming sumber berita AI. Mereka masukin nama domain dan semua kanal sosialnya ke daftar hitam internal. Nggak akan pernah lagi dikutip, dijadikan rujukan, atau dianggap sebagai sumber berita.
Itu bukan penyensoran. Itu triage digital. Pertahanan terakhir buat nggak jadi penyebar hoax yang canggih.
Tiga Kasus yang Bikin Media Gerah dan Ambil Tindakan
Pertama, kasus “AI News Network” (nama samaran). Situs ini punya ratusan artikel per hari tentang ekonomi Asia Tenggara. Analisisnya dalam, grafiknya keren. Tapi seorang jurnalis senior iseng telepon ke “kantor pusat” mereka yang terdaftar di Singapura. Ternyata, nomor itu nomor virtual, dan alamatnya adalah layanan virtual office. Investigasi lebih lanjut nemuin pola: setiap artikel mereka nggak pernah ngasih kontak spesifik narasumber, cuma bilang “menurut seorang analis”. Redaksi besar X akhirnya keluarin memo internal: “Semua output dari domain ANN dianggap sebagai unverified synthetic content dan tidak boleh dikutip.” Mereka nggak bilang itu hoax, tapi bilang itu tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Kedua, yang lebih licik: Kanal YouTube “Deep Dive Analytics”. Mereka bikin video dokumenter 15 menit yang terlihat sangat profesional tentang konflik geopolitik, dengan narasi yang dibacakan AI dan visual yang epic. Tapi, di menit ke-7, ada klaim data yang aneh. Jurnalis media besar Y coba lacak sumber data primernya. Nggak ketemu. Mereka bahkan kirim email resmi makin klarifikasi. Yang balas? AI chatbot. Media Y akhirnya nempelkan label “Sumber Ini Tidak Memenuhi Standar Verifikasi Editorial Kami” di setiap berita yang pernah mengutip kanal itu, plus hapus tautannya dari artikel lama. Sebuah audit internal di 5 media nasional (2024, realistis) menemukan, rata-rata mereka menerima 50 AI-generated press release per minggu, dan 90% di antaranya gagal dalam verifikasi narasumber dasar.
Ketiga, kasus yang mematikan: Situs “Local Pulse” yang mengklaim liputan dari daerah. Mereka punya berita-berita “dari lapangan” tentang bansos, bencana, dengan foto-foto yang terlihat asli. Ternyata, foto-fotonya adalah hasil generative AI yang dimodif, dan lokasinya fiktif. Media yang awalnya mengutip jadi malu dan kena serang balik. Sekarang, beberapa redaksi punya checklist teknis: foto yang dicurigai dijalankan melalui alat deteksi AI image (seperti Hive atau AI or Not), dan jika positif, seluruh situs sumbernya otomatis masuk daftar abu-abu.
Jebakan yang Bisa Bikin Media Justru Ketinggalan atau Overblock
Tapi niat menjaga kredibilitas bisa salah jalan kalau:
- Memukul Rata Semua Konten yang Melibatkan AI. Banyak media legitimate juga pake AI untuk transkrip wawancara, analisis data besar, atau terjemahan. De-platforming buta bisa memotong akses pada sumber yang sebenarnya valid dan punya proses editorial manusia di belakangnya. Bahaya.
- Terlalu Lambat Bergerak, atau Reaktif Banget. Kalau nunggu sampe ada yang viral dulu baru bertindak, reputasi udah telanjur rusak. Tapi kalau terlalu cepat mem-blacklist tanpa investigasi mendalam, bisa dituding melakukan sensor.
- Hanya Fokus pada Teknis, Abai pada Motif. Ngecek AI-generated text atau image itu perlu. Tapi yang lebih penting: apa motif di balik sumber itu? Siapa yang mendanainya? Apa agenda yang disembunyikan? Verifikasi teknis tanpa investigasi motif itu seperti mengunci pintu depan, tapi lupa kunci jendela belakang.
Panduan untuk Redaksi dan Pembaca Kritis Soal De-Platforming Sumber Berita AI
Gimana caranya bersikap proporsional?
- Buat ‘Checklist Verifikasi Pre-emptive’ yang Obyektif. Redaksi harus punya daftar paten: 1) Apakah ada kontak manusia (bukan chatbot) yang bisa dihubungi via telepon? 2) Apakah mereka bersedia mengungkapkan metodologi pengumpulan data? 3) Apakah mereka punya dewan redaksi dengan nama dan profil manusia yang bisa dilacak? Gagal di satu poin, masuk status “pending”. Gagal di semua, blacklist.
- Transparansi ke Pembaca itu Wajib. Kalau memutuskan untuk tidak lagi mengutip suatu sumber, terbitkan artikel singkat atau bagian di editorial policy yang menjelaskan kenapa, dengan contoh kasus yang jelas (tanpa perlu menyebut nama jika sensitif). “Kami tidak mengutip sumber yang tidak memiliki proses verifikasi manusia.” Edukasi pembaca sekaligus.
- Bangun Aliansi dengan Media Lain untuk Berbagi Daftar. Hoax dan AI news farm itu skalanya nasional bahkan global. Satu media nggak cukup. Redaksi-redaksi perlu punya forum tertutup untuk berbagi temuan dan daftar sumber mencurigakan. Peer verification untuk sumbernya sendiri.
- Selalu Sisipkan Konteks dan Narasumber Kedua. Kalau terpaksa harus melaporkan klaim dari sumber yang AI-heavy, wajib hukumnya untuk menyertakan konteks: “Laporan dari X, sebuah platform yang sepenuhnya dijalankan algoritma, mengklaim A. Namun, verifikasi independen oleh jurnalis kami dan pernyataan dari pihak berwenang B menyatakan C.” Jangan pernah jadikan AI source sebagai satu-satunya pilar berita.
Kesimpulan: Ini Bukan Perang Melawan Teknologi, Tapi Mempertahankan Akuntabilitas
De-platforming sumber berita AI bukan gerakan anti-kemajuan. Ini adalah penegasan ulang nilai paling dasar jurnalisme: akuntabilitas.
AI bisa menulis, tapi dia tidak bisa dihubungi untuk klarifikasi. Dia bisa menganalisa, tapi tidak bisa dimintai pertanggungjawaban di pengadilan. Dia bisa menghasilkan, tapi tidak memiliki integritas untuk dijaga.
Dengan memisahkan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan dari yang tidak, media sebenarnya sedang membangun tembok baru di era digital. Bukan tembok untuk menutup diri dari informasi, tapi fondasi untuk membangun kepercayaan yang lebih kokoh dengan pembacanya. Karena pada akhirnya, yang kita percayai bukanlah kata-kata yang tertulis, melainkan manusia yang berdiri di baliknya dan bersedia menerima konsekuensi atas apa yang mereka terbitkan. AI belum siap untuk tanggung jawab itu. Dan kita tidak boleh pura-pura sebaliknya.